quotes

Tampilkan postingan dengan label quotes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quotes. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 November 2017

The Journey; Pergi, bahagia, pulang.




Beberapa waktu lalu bareng Gilang iseng mampir ke toko buku, karna udah lama banget nggaada bacaan baru dirumah. Setelah keliling-keliling dan membaca berbagai sinopsis yang ada dibagian belakang beragam buku yang ada disana. Akhirnya, pilihan aku dan Gilang jatuh pada buku bersampul cokelat dengan judul The Journeys 3. Ini bukan buku baru. Buku ini pertama kali cetak tahun 2013, dan ini juga udah seri ketiga-nya.

Awalnya aku pikir ini adalah novel yang isinya ngga jauh dari probematika anak remaja tanggung yang mengisahkan perjalanan hidup objek yang jadi pemeran utamanya dalam urusan cinta dan pencarian jati diri. Tapi ternyata, aku SALAH BESAR. Buku garapan beberapa blog-traveller ini berisi jauh lebih penting dan jauh lebih bermakna ketimbang itu. Judulnya The Journey benar-benar diartikan dalam artian yang sesungguhnya. Iya, perjalanan.

Buku ini berisi tentang kumpulan cerita dari para bloger-bloger pro melakukan perjalanan. Mulai dari perjalanan sekedar pulang kekampung halaman, perjalanan karna tuntutan kerjaan, perjalanan liburan bahkan perjalanan tak berujung. Ada cerita perjalanan dari blog-traveler Husni Mubarak ke zambia. Tentang bagaimana ia melakukan perjalanan menantang nyali, mencoba hal baru yang diluar batas beraninya. Ada juga cerita dari Dina, yang nekat melepas apartmenetnya untuk lebih menikmati bebas yang dekat dengan alam bersama sang suami, Ryan. Kalau penasaran bagaimana ia bertahan hidup nomaden dinegara orang tanpa rumah, dan berbagai tips keliling dunia dengan budged munumalis, boleh cek blog-nya di www.duaransel.com

Dari sekian banyak cerita yang disuguhkan The Journeys 3, menurutku yang paling menyentuh hati adalah cerita dari Hanny kusumawati yang melakukan perjalanan ke Santorini. Tulisannya bener-bener membuat pembaca penasaran dan jadi pengen banget traveling kesana juga. Menikmati Golden Sunset, Mengunjungi Oia, bermain di Red Beach, berjalan melewati anak tangga yang ada disepanjang tebing dan berinteraksi dengan penduduk asli setempat yang terkenal ramah.

Setelah selesai membaca buku ini, rasanya pengen banget jadi kayak mereka. Melakukan perjalanan ketempat asing, merasakan hidup dinegara orang yang tradisi, budaya dan kulinernya berbeda. Tak hanya itu saja, mereka bahkan bisa menemukan arti lain dari kehidupan dalam perjalanan mereka. Mendapatkan kedamaian dalam atmosfer yang berbeda. Mendapatkan makna kebahagiaan dari persfektif yang berbeda, bahkan bahagia bisa didapat dengan cara yang amat sederhana.

Tapi setelah diflashback kebeberapa waktu belakangan ini, kehidupanku hanya habis disini-sini saja. Menjalani rutinitas yang sama dan itu-itu saja. Perjalanan yang kulakukan cuma perjalanan dari rumah kekantor-kantor kerumah. Sempat beberapa kali merencanakan perjalanan bareng temen keluar kota, tapi berakhir sebagai wacana hanya karna alasan klasik, seperti: ngga ada waktu yang pas, kerjaan yang menumpuk, dan faktor ekonomi yang kurang mendukung.

Membaca bagaimana mereka, para penulis, ini bisa mencapai satu tempat dan menikmati kedamaian serta mendapatkan kebahagiaan disana, aku langsung merasa kalo hidup aku ini hambar banget. Kurang piknik!

Perjalanan paling jauh yang pernah kutempuh baru sampai Jogjakarta, sekitar tahun 2015 lalu bareng temen kantorku. Dan memang harus diakui, pertama kali menginjakan kaki dikota orang itu, suasananya beda. Kebahagiaan yang dirasakan selama 3 hari disana pun terasa begitu sederhana. Bisa naik sampe keatas borobudur dan menikmati pemandangan Magelang dari atas itu sudah bahagia. Padahal kaki lecet sampe berdarah-darah. Jalan kaki keliling Malioboro bukannya capek, malah kesenengan. Nyobain naik delman, bahagianya luar biasa. Karna seumur-umur belum pernah naik delman yang ditarik kuda beneran gitu. Bangun subuh-subuh, menghirup udara yang masih berkabut didaerah Kaliurang, bahagianya pol. Padahal biasanya baru bangun tidur kalo matahari udah tinggi diatas kepala. Keliling alun-alun kidul sampe jam 2 pagi, juga dijabanin. Ngantuknya ngga berasa sangkin bahagianya. Diajak offroad naik jeep sampe ke gunung merapi pagi-pagi, bahagianya tak terkira walaupun belum mandi dan masih pake baju tidur. Segala bahagia yang terasa sesederhana itu.

Antrinya sampe 2 jam buat foto disini doang
Setelah perjalanan ke Jogja itu, pernah sih menyempatkan diri pergi kebeberapa tempat buat sekedar merefresh pikiran yang udah muak sama kerjaan. Seperti one day trip ke Singapur dan Treasure Bay Bintan. Tapi tau sendiri kan kalo one day trip, dalam sehari diburu buat mengunjungi semua tempat yang ada. Akhirnya bukan dapet kesan bahagianya, pulang-pulang malah kecapekan dan kehabisan duit karna kalap beli ini itu yang ngga penting disana.

Sebenarnya dalam perjalanan, yang penting itu bukan seberapa banyak tempat yang dikunjungi, berapa banyak fot yang diabadikan, bukan berapa koper oleh-oleh yang dibawa pulang, tapi seberapa besar makna yang didapat dari perjalanan itu sendiri. Perjalanan itu seni. Dan seni itu harus dinikmati untuk mendapatkan apa yang ada dibaliknya, makna apa yang terkandung didalamnya.
Tak peduli jauh atau dekat.
Tak peduli cepat atau lambat.

Seperti kutipan kata yang kuingat, “ada saatnya seseorang berangkat dan ada saatnya seseorang harus pulang. Dan di antara keduanya adalah perjalanan” – Keumala (2012).
Dari setiap perjalanan, pasti akan berakhir sama; pulang.
Pulang kemanapun, atau siapapun yang bisa menjadi tempat merebah  dan melepas lelah. Tempat beristirahat sambil mempersiapkan akan kemana perjalanan selanjutnya.
Dan arti pulang bagiku adalah dimana saja, asal ada kamu.



Rabu, 25 Oktober 2017

Aku kangen kamu yang dulu (?)



Manusia, siapapun itu, dalam perjalanan hidupnya pasti mengalami perubahan. Tinggal kita yang mesti tau gimana cara menyikapinya, karna besar atau kecilnya perubahan pasti membawa dampak bagi orang itu sendiri, orang lain, bahkan keadaan disekitarnya.

Pun dalam sebuah hubungan, perubahan itu sering terjadi. Entah perubahan sudut pandang, perubahan perlakuan, atau yang lebih parah, perubahan perasaan. Mitamit yaa, tapi yang terakhir ini jangan sampai terjadi.

Penyebab perubahan itu sendiri sih banyak. Mulai dari yang simpel dulu yah:

1. Sepele terhadap pasangan.
Kebanyakan pasangan yang udah pacaran cukup lama pasti mulai timbul perasaan begini: "entar aja ah ngabarinnya, dia tau kok aku kerja", "entar aja deh bales chatnya, dia pasti ngerti aku lagi sibuk", entar aja deh ngabarinnya kalo udah sampe rumah, dia tau kok aku lagi dijalan", yang lebih parah lagi, pas ribut kadang sempet kepikir, "alah, 15 menit lagi juga baikan".

2. Komunikasi
Segimanapun kuatnya hubungan, hal sekecil apapun HARUS dikomunikasikan kepasangan. Komunikasi itu penting, biar kalo ada apa-apa ngga jadi salah paham. Karna kalo udah salah paham, semua penjelasan bakal kedengeran cuma kayak alesan.
 
Saling memberi kabar itu juga ngga kalah penting. Jangan nunggu dia yang ngabarin duluan. Disana dia juga nunggu kabar dari kita. Kita lagi dimana, sama siapa, nagapain aja. Just delete semua teori kalo cowok yang mesti mulai semuanya duluan. Emang sekarang bukan zamannya lagi 24 jam full harus kabar-kabaran, chat all day long. Tapi setidaknya, kabarin dia kalo mau pergi kemana-mana. Jangan buat dia khawatir trus jadi mikir yang ngga-ngga. Lagian kita ngga tau apa yang dia alamin. Bisa aja diluar sana dia lagi bad mood, lagi ada sesuatu yang bikin pikirannya kacau, dan lagi butuhin kita banget.

2. Berhenti berjuang.
Bukannya mau mengintimidasi para cowok-cowok yaa. tapi ini 80% dilakukan oleh para lelaki. Awalnya doang yang kayaknya iya banget. Eh pas udah jadi pacar, yaudah cuek aja gitu. Ntar giliran ada yang cowok lain yang lebih perhatian, baru tuh heboh ngga keruan, nyari pembelaan, nyari pembenaran.

Kita cewek-cewek ini bukannya haus kasih sayang atau suka cari perhatian ya. Tapi ada rasa nyaman ketika diperhatikan. Merasa penting ketika lelakinya selalu ada memberi kabar. Ada rasa bahagia ketika kita merasa didahulukan.
Kebanyakan cowok-cowok sering banget 'besar kepala' ngerasa udah dicintai sebegitunya sampe berpikir kalo ceweknya ngga bakal kemana mana, ngga akan berpaling, tetep cinta gimanapun juga. Padahal kan kalo berjuang sendiri gitu terus lama-lama capek juga. Sesabar-sabarnya orang juga bakal pergi ketika ngerasa kehadirannya tak lagi dihargai.

3. Trouble in relationship
Yang namanya hubungan, ngga mungkin bakalan berjalan mulus-mulus aja. Ditengah jalan pasti ada aja kita nemuin kerikil yang bisa bikin jatuh. Tapi apapun masalahnya, segeralah selesaikan berdua dengan kepala dingin sampai bener-bener selesai. Jangan sampe gantung, cuma selesai disatu pihak sementara yang lainnya masih ngedongkol. Karna yang begini ini biasanya yang bikin perubahan dalam hubungan. Rasa kesal yang ngga kesampean itu bisa jadi bahaya berkepanjangan kalo dibiarin terus, bakal ada rasa males kepasangan sendiri dan ujung-ujungnya jadi hambar. Yaampun, jangan sampe :(

4. Orang ketiga.
Ini adalah penyebab paling 'amit-amit, jangan sampe kejadian', tapi sebenernya paling gampang terjadi. Dalam kehidupan sehari-hari pasti ada masanya kita bakal ketemu sama orang baru, entah temen sekolah/kampus/kantor baru, ngga sengaja ketemu orang baru dijalan, followers di sosial media, atau kenalan baru dari temen setongkrongan. Dan bisa aja kan dari orang-orang baru ini ternyata pasangan kita menemukan 'sesuatu yang baru' yang lebih menarik menurutnya. Secara, kita ini manusia, gga akan pernah puas, ngga akan pernah merasa cukup.

Tapi selain orang-orang baru yang disebutin diatas tadi, orang ketiga itu bisa jadi juga berbentuk sebagai orang-orang lama yang pernah ada dalam kehidupan pasangan kita, atau yang biasa disebut, MANTAN. Iyaa, MANTAN! Jujur aja yah, aku salah satu orang yang sensitif banget sama mahluk bernama mantan ini.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Makanya, mulai dari sekarang coba saling mengkoreksi dan memperbaiki diri. Inget-inget lagi deh gimana bahagianya masa-masa PDKT dulu. Jangan sampe nih ya, kenangan manis zaman penjajakan justru hilang saat udah jadian.
Kebiasaan-kebiasaan waktu masa awal-awal pacaran juga jangan sampe dilupain. Hal sepele kayak ngucapin Good Night sebelum tidur itu juga perlu buat ngejaga hubungan supaya tetep manis. Alay? lebay? Engga. Justru hal-hal begini yang nanti akan sangat dirindukan.

So, semangat survive buat pasangan-pasangan diluar sana. Semoga tetap manis sampai nanti datang satu hari termanis yang dinantikan.


Rabu, 21 Juni 2017

Jatuh Cinta diam-diam, Tentang Rindu yang Dipendam






Ngga bisa tidur semaleman, iseng buka wattpad, baca baca cerpen disitu dan nemu satu cerita yang ngena banget dihati. Ceritanya tentang seseorang yang sebenernya sayang,tapi lebih memilih buat mendem perasaannya dan sampe endingnya tetep aja dia ngga bisa memiliki. Nyeesss banget ngga sih???

Begitu selesai baca, langsung ngedetak aja gitu dihati. Kebayang gimana rasanya sayang sama orang tapi ngga bisa bilang. Jadi kebawa perasaan dan ingat seseorang. Bukan, bukan pacar. Alhamdulillah hubunganku sama Gilang baik-baik aja. Tapi ini lebih dari itu.

Hubunganku sama orang ini lebih dari pacar. Susah dijelasin. Tiba-tiba mendadak jadi sayang sesayang sayangnya sama orang ini cuma gara gara ngeliatin mukanya yang polos pas tidur dan itu rasanya adeeem banget. Nggatau gimana ungkapinnya, but yes, i am falling in love. This is a real love. Unconditional love.

He is Gilang’s son. Yaa, Gilang is already have a kid, his name is Adam Gian Pratama, 4 years old. I never dreamt my blessings would all be multiplied. That life would just seem more complete, when he were by our side. Bahagaianya itu beda. Entahlah, mungkin karna belum pernah ngerasain punya anak jadi over excited.

Pertama kali tau Gilang udah punya anak, ragu itu ada. Ya secara sebelumnya aku belum pernah begini. Ngga kebayang ntar harus apa dan mesti gimana. Tapi makin dijalanin, makin kesini, everything’s good. Jujur aja ya, i never knew how much i love my boyfriend until i saw how much he love his son. Kita jalan bareng, main-main bareng, ada rasa bahagia yang entah kenapa rasanya belum pernah aku rasain sebelumnya.

Kalau mau dijelasin rasanya itu kayak jatuh cinta, tapi ngga bisa bilang. Udah sayang, tapi ngga bisa memiliki. Seberapapun sayangnya aku kedia, he will never be mine. Hurt? Absolutly, yes! Sering ada rasa cemburu yang ngga bisa dijelasin kenapa, karna aku ngga ada hak untuk itu. Tiap kali denger Adam nyebut nama orang lain dalam obrolan kita, itu rasanya kayak ada bunyi “kraaaak....” didalem hati, berasa ada yang patah.

Aku mulai ngerasain ini waktu tiba-tiba Gilang ngabarin Adam sakit dan diopname. Balik kerja dijemput Gilang, buru-buru kita kesana. Sampe sana perasaan aku tuh campur aduk. Antara khawatir, sedih ngeliat dia lemes begitu, pengen langsung meluk tapi ngga bisa. Akhirnya aku cuma bisa diem. Iya, diem doang dan ngeliatin. Ngeliat dia nangis, rasanya tuh pengen ada disamping dia dan bilang, “don’t cry baby, everything’s will be fine. I am here with you now”. Tapi mikir lagi, posisiku saat ini belum bisa buat ngelakuin hal sejauh itu. Dan aku juga sadar satu hal, bukan aku yang dia butuhin saat itu. He need his Mom. Not me.

Malem kedua Adam sakit, aku sedikit beruntung. Karna bisa duduk disamping dia, ngipasin dia karna dia kepanasan, dan ngeliatin dia tidur. Nggatau kenapa, tapi itu rasanya damai banget. You know what i’m thinking about? He may not have my eyes, but from that very first moment, he had my heart. I may not carried him for 9 month, but from now, i will always bring him in my heart forever. Ngga pengen pulang. Pengen disitu, nemenin dia sampe ntr dia bangun. Tapi sekali lagi, itu ngga mungkin.

Tiap kita jalan, nyuapin dia makan itu precious moment banget buat aku. Ngeliat dia becanda terus ketawa itu rasanyaaaa, aaahh susah digambarin senengnya. Apalagi kalo nemenin dia main game, ngeliat mukanya dari deket, geregetan pengen ciuummmm.

Luar biasa banget yah, anak kecil umur 4 tahun bisa bikin aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.

Sebenernya sih ngga mungkin banget, tapi seandainya suatu saat nanti Adam ketemu tulisan ini, aku pengen dia tau, so many people love you, Kid.


Not flesh of my flesh

Not bone of my bone

But still miraclously, my very own

I never forget for one single minute, the day when i saw you sleep

You didn’t grow under my heart, but in it


When i first met your father

Little did i know, that over time

I’d loved you, too










Rabu, 14 Juni 2017

Tulisan Rindu



Rindu tak pernah sebangsat ini sebelum aku bertemu kamu. 


Uring-uringan. Bingung mau ngapain. Scroll history chat sampe ke yang lama-lama banget, terus senyum senyum sendiri kayak orang bego.

Kata Tulus, rindu itu baik untuk kita (Ruang Sendiri – 2016). Iya, mungkin. Jadi ntar pas ketemu, berasa gitu kangennya. Kalau gitu tunggu sampe kita ketemu nanti, dan lihat, sebaik apa aku setelah beberapa hari merindukanmu.

Tapi memang benar, diusia kita yang sudah segini, bukan waktunya lagi pacaran yang harus setiap hari ketemu, kemana-mana berdua, anter-jemput sana sini kayak anak SMA yang baru ketemu cinta pertama. Kita udah sama-sama dewasa. Sama-sama sudah punya kesibukan masing-masing. Sebagai pasangannya, aku ngga boleh egois untuk selalu meminta waktunya kapanpun aku mau. Dia punya dunianya sendiri. Dia punya keluarga, teman, pekerjaan atau bahkan urusan yang memang lebih penting dari pada aku.

Dan aku? Sebisa mungkin menunggu.

Saling percaya, itu kuncinya. Aku percaya dia bukan orang yang suka meremehkan kepercayaan sudah aku beri padanya. Dan aku juga percaya, bahwa dia juga percaya kalau aku buka tipe wanita yang suka sepik sana sini sama laki-laki lain ketika dia sedang sibuk dengan me time-nya.

Tapi sebenernya tak ada orang yang benar-benar sibuk, semua tergantung pada prioritas. Semenit saja, berilah kabar. Jangan buat wanitamu cemas menunggu sedang dimana dan sedang apa kamu. One thing that you must to know, boys. Woman can do a research more than FBI, if they want!

Penulis favoritku, Dee Lestari, pernah bilang begini:

Seindah apapun huruf terukir dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang jika ada ruang? (Filosofi Kopi – 2006)

Karna sebenernya yang paling penting dari hubungan itu bukan seberapa seringnya bareng-bareng, tapi seberapa berkualitasnya waktu yang kita habisin bareng-bareng. Percuma kan sering ketemu tapi selalu berantem? Mendingan jarang ketemu tapi hubungan tetap adem ayem.

Ibaratnya tuh mungkin begini, enak mana naik arung jeram diair dangkal yang berombak atau berlayar dengan kapal besar dilaut tenang? Arung jeram mungkin seru. Tapi ngga ada orang yang bisa sampai ketempat yang jauh dengan arung jeram, kan? Naik kapal besar dilaut tenang memang kadang ada bosannya. Bosan itu hal manusiawi. Semua orang pasti pernah dan pasti akan bosan. Tapi ya balik lagi kehati masing-masing. Selagi sama-sama bisa menjaga komitmen, semuanya pasti akan baik baik saja. Pikirin lagi deh, yakin mau ninggalin kapal yang udah separo jalan demi naik arung jeram yang bahkan ngga akan penah sampai kemanapun? Ngga capek terombang-ambing gitu?

Ketika sedang berjarak, rindu pasti ada. So, just make it simple. Ketika rindu, bilang. Pengen ketemu, datangin. Buat wanita, jangan sok bikin kode-kode hanya karna terlalu malu bilang kangen dan pengen ketemu. Laki-laki bukan mind reader yang bisa membaca apa isi otakmu. Dan buat laki-laki, jangan sok sibuk dengan kerjaan atau temanmu dan begitu saja membiarkan wanitamu merindu. Menunggu tak seenak itu. Apa perlu dia letusin balon hijau depan mukamu, biar kamu tau hati sangat kacau itu gimana?

Intinya sih, apapun itu, komunikasikan. Bicarakan. Pasangan itu partner. Sama-sama berjuang. Bukannya yang satu enak sendiri dan yang satunya capek sendiri.

Nah, ngomongin soal capek, aku sama gilang pernah membaca satu artikel tentang ‘capek’. Tentang gimana hubungan bisa terus berjalan ketika keduanya tak mudah ‘capek’ menghadapi satu sama lain. Karna, ketika salah satunya saja sudah menyerah dan berkata, “aku capek...”, maka sekeras apapun satunya lagi berjuang untuk tetap survive, ngga akan ada hasilnya. Lama-lama pasti juga bakalan ikutan ‘capek’ dah berhenti.

Jangan mudah bilang capek. Jangan mudah bilang lelah. Namanya sedang memperjuangkan sesuatu ya pasti ada perasaan begitu. Tapi diinget lagi gimana dulu waktu mulai berjuang sama-sama dari bawah.

Ah, sudahlah. Gara-gara rindu, jadi kemana-mana omongannya.

Rindu itu ternyata efeknya begini banget yah. Tiba-tiba kecium aroma liquid vapenya dia, tiba-tiba keinget dan bikin engga fokus. Ah, aku butuh aqua. Eh bukan, aku butuh dia. Karna obat paling ampuh buat rindu itu ya bertemu.

Tadi malem, gilang bilang begini, “sabar, tunggu sampe nanti watunya kita ketemu”.

Iya Gilang, iyaa. Aku tunggu. Rindunya udah aku kumpulin dan bakal aku ledakin didepan muka kamu ntr pas kita ketemu.

See you when i see you!

I miss you!

Iloveyou.



NB: Yes. I always write ILOVEYOU with no space. So there is no room foe anyone else


Jumat, 09 Juni 2017

Wonder Woman Movie



Picture from Google
 Ini film yang, katanya, udah lama ditunggu-tunggu sama Gilang. Film yang diangkat dari DC Comics ini mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan untuk menjaga dan mengembalikan perdamaian dunia disaat tengah berlangsungnya perang besar antara Jerman VS Inggris.

Kisah yang berlatar pada tahun 1918 ini dimulai dengan flashbacknya Diana, yang diperankan oleh Gal Gadot, ke masa kecilnya ketika masih berada di Themyscira, sebuah tempat yang diciptakan oleh Zeus untuk melindungi Kaum Amazon dari seorang Dewa perang bernama Ares, yang notabene adalah anaknya Zeus itu sendiri. Dari kecil Diana selalu diceritakan oleh ibunya, Hippolyta (Connie Nielson) tentang Zeus, Dewa yang menciptakan manusia dan Dewa perang, Ares. Juga tentang senjata rahasia yang ditinggalkan Zeus untuk mengalahkan Ares, bernama GodKiller.

Semua peghuni Themyscira itu perempuan-perempuan tangguh yang memang sudah dilatih berperang dibawah asuhan Jendral Antiope (Robin Wright), yang sayangnya terbunuh saat perang melawan pasukan jerman yang tak sengaja menemukan Themyscira ketika sedang mencari pilot Steve Trevor (Chris Pine).

Steve Trevor sendiri juga tidak sengaja sampai di Themyscira karna pesawat yang dikendarainya pada saat kabur dari tentara jerman rusak dan tenggelam diperairan Themyscira. Diana yang melihat kejadian itu langsung menolongnya dan membawanya kedaratan.
Dari Steve Trevor lah Diana mengetahui bahwa diluar sana sedang terjadi perang besar yang banyak memakan korban terutama perempuan dan anak-anak. Dan akhirnya Diana memutuskan untuk ikut kedunia manusia yang sesungguhnya.

Target utama Diana dan Steve Trevor adalah Erich Ludendorff (Danny Huston) seorang Jendral dari pasukan Jerman, yang dipercayai sebagai Ares oleh Diana, dan Doctor Maru (Elena Anaya) atau yang lebih dikenal orang-orang sebagai Dr. Poison. Perjalanan pencarian ini didukung oleh seorang jendaral dari pasukan Inggris, Patrick Morgan (David Thewlis), juga teman-teman Steve yaitu, Sameer (Said Thagmaoui), Charlie (Ewen Bremner), dan Chief (Eugene Brave Rock).


Sama seperti film-film lainnya, pasti ada aja kisah romantisnya. Dan inilah yang terjadi antara Steve Trevor dan Diana dalam perjalanan mereka menuju Garis Depan, seperti yang tertulis dibuku hariannya Dr. Maru yang dicuri oleh Steve Trevor saat ia memata-matai pasuka Jerman.

Sepanjang film ini banyak adegan adegan berantem super seru yang bikin ngga ngedip. Aksinya Gal Gadot juga juaraaa. Dan ending yang ngga disangka-sangka juga bikin geregetan nontonnya. Dari awal film, aku sama Gilang udah percaya banget kalau dr. Maru itu jelmaan Ares. Disepanjang film, Diana yakinnya kalau Ludendorff itu Ares. Tapi ternyata, siapa yang ngira kalau Aresnya adalaaaaaaahhhhhhh, Patrick Morgan, a speaker for peace on the Imperial War Cabinet, orang yang mendukung perjalanan team Diana dan Steve. Padahal Diana udah Berhasil ngebunuh Ludendorff loh.

Dan dari perkelahian Diana melawan Patrick Morgan a.k.a Ares itulah Diana tau kalo dia sebenernya bukan anak dari Hippolyta, tapi anak dari Zeus, yang sengaja ditinggalkan bersama Kaum Amazon untuk menjadi senjata terakhir melawan Ares. Berarti Diana sama Ares sodaraan dong yah. Haha.

Endingnya yang sad ending bikin galau. Kenapa harus Stevenya yang mati? Mengorbankan diri untuk mengamankan Gas yang diciptakan Dr. Maru supaya ngga memakan korban orang-orang yang ngga bersalah. Uh, sooo sweet. Tapi kan kasian Diananya  #RIPSteveTrevor


Over all, film ini bagus banget. Two thumbs up deh pokoknya buat sutradaranya, Patty Jenkis. Ceritanya yang mengambil settingan World War I dan masa Yunani kuno dengan kepercayaan dewa-dewanya juga keren banget.

Banyak quotes keren dalam film ini yang masih aku inget sampe sekarang, contohnya:

“Aku selalu ingin menyelamatkan dunia. Namun semakin dalam, kamu akan melihat semakin banyak kegelapan di dalamnya.”

Dari sini, yang aku tangkep adalah, bahwa dalam diri manusia itu selalu ada dua sisi. Sisi baik, dan sisi buruk. Tinggal kembai lagi ke diri masing-masing. Mau berada disisi yang manakah kita?

Film ini sih wajib nonton banget buat aku. Aku suka jalan ceritanya, cast-nya, semuanya recommended banget menurut aku. Tapi aku ngga suka sama ‘Diana-nya’. Dia rese, suka gangguin pacar aku. Eh? Oke, maaf jadi curhat :p