trip

Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Desember 2017

Camping di Poyotomo


Dikesempatan liburan kali ini, aku sama Gilang memutuskan buat nyobain cara liburan yang beda, yang agak sedikit jauh dari kota. Dan kebetulan aku juga dapet recommend tempat yang keren banget dari temenku didaerah Bintan. Ini tempat lumayan jauh dari pusat kota. Untuk mencapai tepat ini kami musti nyebrangin lautan. Dan biar ngga susah nanti ketika disana, kami sengaja bawa motor dari Batam.

Setibanya dipelabuhan ASDP Tanjung Uban, kami langsung tancap gas menuju tempat ini. Dan itu memakan waktu sekitar 45 menit perjalanan. Disepanjang perjalanan yang ada pepohonan, ilalang, tanah kosong. Perumahan warga itu bisa diitung, Cuma ada beberapa biji doang dan jaraknya juga jauh-jauh banget. Waktu itu jam menunjunkan pukul 13.05 dan panasnya nyentang banget dikepala. Sepanjang jalan ngeliatin GPS, kok rasanya jauh banget ngga nyampe-nyampe.

Udah lemes seada-adanya karena panas, capek, dan laper, tiba-tiba kami ngeliat gerbang dengan tulisan “SELAMAT DATANG DI TAMAN PEMANCINGAN POYOTOMO”. Wuihhhh, kita cerah seketika.

Suasana yang ramai tapi tetap teduh menyambut kami. Setelah antri untuk membayar masuk Rp 10.000 per orang, kami langsung masuk kedalam area Poyotomo menuju kantin, menemui mbak Desi untuk penyewaan tenda karna kami mau camping disini. Biaya sewa tendanya juga murah banget, cuma Rp 50.000,- untuk satu malam. Dan tendanya bebas mau didirikan dimana aja didalam area Poyotomo. Lokasi yang kami pilih diarea belakang, ada kayak danau kecil disana. Dan ketika dilihat dari sisi depan, tenda kami pas banget ada di kaki gunung bintan. Sumpaaah, keren.




Setelah tenda berdiri, kami lanjut makan siang. Udah telat banget buat disebut makan siang sih sebenernya, pokoknya intinya makanlah. Soalnya dari pagi perut kami Cuma diisi pop mie, beli kapal.
Karna udah capek, kita memutuskan buat makan dikantin yang ada dipoyotomo. Pilihan menunya emang ngga begitu banyak, tapi enak-enak. Dan harganya juga standart, ngga mahal-mahal amat kayak tempat makan yang ada ditempat wisata pada umumnya.
Selesai makan, kita keliling-keliling desa Sri Bintan nyari buah favorit kita, Duriaaaaannnn. Karna memang kebetulan saat ini lagi musim durian.

Disepanjang jalan, bau durian udah kecium dimana-mana. Banyak penduduk lokal yang menjajakan durian didepan rumah mereka dipinggir jalan. Siang itu aja kami singgah kebeberapa penjual durian. Mumpung disana, kapan lagi makan durian yang asli baru jatoh dari pohon?




Malam harinya kami kepengen nyari makanan diluar. Setelah beberes, mandi, dan ganti baju, kami keluar. Pengen nyobain makanan lokal masyarakat sini. Tapi semua gagal total. Kami keluar daerah poyotomo sekitar jam 19.00 dan suasana udah sepi. Kami nyoba nanya ke beberapa penduduk yang ketemu dijalan ternyata buat beli makanan doang kami harus jalan sampe kesimpang lagoi yang lumayan jauh dari sana. Ditambah lagi sepanjang jalan juga ngga ada lampu jalan. Gelap seada-adanya. Opsi kedua, ke arah kantor pemerintahan didaerah Dompak. Disana baru warung makan. Dan ya sama aja, jalanan menuju kesana juga gelap minta ampun.
Kami memutuskan buat mengambil opsi kedua, dengan pertimbangan jarak tempuhnya lebih deket kesana ketimbang kesimpang lagoi. Gelap-gelap kami tempuh juga demi makan. Jalanan sepi, Cuma ada dua motor, motor aku sama Gilang, dan satu lagi motor temen kami. Hanya sesekali ada kendaraan dari arah berlawanan. Kanan kiri jalan adanya hutan, rawa-rawa, semak belukar. Beneran serem banget.
Tapi kami beruntung, belum nyame ketempat tujuan, kami udah ketemu tempat makan. Langsung aja belok tanpa mikir itu makanan enak apa ngga, pokoknya makan ajalah. eh tapi ternyata pecel lelenya enak loh. Ngga sia-sia jalan lumayan jauh, gelap-gelapan.
Sayang, begitu selesai makan digazebo pinggiran kolam hujan turun lumayan deres. Buru-buru deh balik ketenda sebelum kuyup.
Pagi hari di Poyotomo adalah pagi hari terindah sepanjang hidup. Asli damaaaaaai banget. Keluar tenda, ngeliat kearah Gunung Bintan yang masih terselimuti kabut. Subhanallah.
Suasananya juga beda 180 derajat kayak pertama kali kami menginjakan kaki disini. Tidak ramai seperti kemarin, hanya ada beberapa orang berjalan dipinggir kolam, anak-anak kecil bermain air, dan beberapa ekor bangau terbang rendah diatas kolam pemancingan.


Tapi sayangnya ngga bisa lama menikmati suasana itu karna harus beberes barang, dan pergi dari situ karna ngejar kapal buat balik kebata. Lain kali harus kesini lagi, menghabiskan pagi memandangi kabut yang menutupi gunung bintan perlahan menghilang.



See you again Poyotomo.

Senin, 20 November 2017

The Journey; Pergi, bahagia, pulang.




Beberapa waktu lalu bareng Gilang iseng mampir ke toko buku, karna udah lama banget nggaada bacaan baru dirumah. Setelah keliling-keliling dan membaca berbagai sinopsis yang ada dibagian belakang beragam buku yang ada disana. Akhirnya, pilihan aku dan Gilang jatuh pada buku bersampul cokelat dengan judul The Journeys 3. Ini bukan buku baru. Buku ini pertama kali cetak tahun 2013, dan ini juga udah seri ketiga-nya.

Awalnya aku pikir ini adalah novel yang isinya ngga jauh dari probematika anak remaja tanggung yang mengisahkan perjalanan hidup objek yang jadi pemeran utamanya dalam urusan cinta dan pencarian jati diri. Tapi ternyata, aku SALAH BESAR. Buku garapan beberapa blog-traveller ini berisi jauh lebih penting dan jauh lebih bermakna ketimbang itu. Judulnya The Journey benar-benar diartikan dalam artian yang sesungguhnya. Iya, perjalanan.

Buku ini berisi tentang kumpulan cerita dari para bloger-bloger pro melakukan perjalanan. Mulai dari perjalanan sekedar pulang kekampung halaman, perjalanan karna tuntutan kerjaan, perjalanan liburan bahkan perjalanan tak berujung. Ada cerita perjalanan dari blog-traveler Husni Mubarak ke zambia. Tentang bagaimana ia melakukan perjalanan menantang nyali, mencoba hal baru yang diluar batas beraninya. Ada juga cerita dari Dina, yang nekat melepas apartmenetnya untuk lebih menikmati bebas yang dekat dengan alam bersama sang suami, Ryan. Kalau penasaran bagaimana ia bertahan hidup nomaden dinegara orang tanpa rumah, dan berbagai tips keliling dunia dengan budged munumalis, boleh cek blog-nya di www.duaransel.com

Dari sekian banyak cerita yang disuguhkan The Journeys 3, menurutku yang paling menyentuh hati adalah cerita dari Hanny kusumawati yang melakukan perjalanan ke Santorini. Tulisannya bener-bener membuat pembaca penasaran dan jadi pengen banget traveling kesana juga. Menikmati Golden Sunset, Mengunjungi Oia, bermain di Red Beach, berjalan melewati anak tangga yang ada disepanjang tebing dan berinteraksi dengan penduduk asli setempat yang terkenal ramah.

Setelah selesai membaca buku ini, rasanya pengen banget jadi kayak mereka. Melakukan perjalanan ketempat asing, merasakan hidup dinegara orang yang tradisi, budaya dan kulinernya berbeda. Tak hanya itu saja, mereka bahkan bisa menemukan arti lain dari kehidupan dalam perjalanan mereka. Mendapatkan kedamaian dalam atmosfer yang berbeda. Mendapatkan makna kebahagiaan dari persfektif yang berbeda, bahkan bahagia bisa didapat dengan cara yang amat sederhana.

Tapi setelah diflashback kebeberapa waktu belakangan ini, kehidupanku hanya habis disini-sini saja. Menjalani rutinitas yang sama dan itu-itu saja. Perjalanan yang kulakukan cuma perjalanan dari rumah kekantor-kantor kerumah. Sempat beberapa kali merencanakan perjalanan bareng temen keluar kota, tapi berakhir sebagai wacana hanya karna alasan klasik, seperti: ngga ada waktu yang pas, kerjaan yang menumpuk, dan faktor ekonomi yang kurang mendukung.

Membaca bagaimana mereka, para penulis, ini bisa mencapai satu tempat dan menikmati kedamaian serta mendapatkan kebahagiaan disana, aku langsung merasa kalo hidup aku ini hambar banget. Kurang piknik!

Perjalanan paling jauh yang pernah kutempuh baru sampai Jogjakarta, sekitar tahun 2015 lalu bareng temen kantorku. Dan memang harus diakui, pertama kali menginjakan kaki dikota orang itu, suasananya beda. Kebahagiaan yang dirasakan selama 3 hari disana pun terasa begitu sederhana. Bisa naik sampe keatas borobudur dan menikmati pemandangan Magelang dari atas itu sudah bahagia. Padahal kaki lecet sampe berdarah-darah. Jalan kaki keliling Malioboro bukannya capek, malah kesenengan. Nyobain naik delman, bahagianya luar biasa. Karna seumur-umur belum pernah naik delman yang ditarik kuda beneran gitu. Bangun subuh-subuh, menghirup udara yang masih berkabut didaerah Kaliurang, bahagianya pol. Padahal biasanya baru bangun tidur kalo matahari udah tinggi diatas kepala. Keliling alun-alun kidul sampe jam 2 pagi, juga dijabanin. Ngantuknya ngga berasa sangkin bahagianya. Diajak offroad naik jeep sampe ke gunung merapi pagi-pagi, bahagianya tak terkira walaupun belum mandi dan masih pake baju tidur. Segala bahagia yang terasa sesederhana itu.

Antrinya sampe 2 jam buat foto disini doang
Setelah perjalanan ke Jogja itu, pernah sih menyempatkan diri pergi kebeberapa tempat buat sekedar merefresh pikiran yang udah muak sama kerjaan. Seperti one day trip ke Singapur dan Treasure Bay Bintan. Tapi tau sendiri kan kalo one day trip, dalam sehari diburu buat mengunjungi semua tempat yang ada. Akhirnya bukan dapet kesan bahagianya, pulang-pulang malah kecapekan dan kehabisan duit karna kalap beli ini itu yang ngga penting disana.

Sebenarnya dalam perjalanan, yang penting itu bukan seberapa banyak tempat yang dikunjungi, berapa banyak fot yang diabadikan, bukan berapa koper oleh-oleh yang dibawa pulang, tapi seberapa besar makna yang didapat dari perjalanan itu sendiri. Perjalanan itu seni. Dan seni itu harus dinikmati untuk mendapatkan apa yang ada dibaliknya, makna apa yang terkandung didalamnya.
Tak peduli jauh atau dekat.
Tak peduli cepat atau lambat.

Seperti kutipan kata yang kuingat, “ada saatnya seseorang berangkat dan ada saatnya seseorang harus pulang. Dan di antara keduanya adalah perjalanan” – Keumala (2012).
Dari setiap perjalanan, pasti akan berakhir sama; pulang.
Pulang kemanapun, atau siapapun yang bisa menjadi tempat merebah  dan melepas lelah. Tempat beristirahat sambil mempersiapkan akan kemana perjalanan selanjutnya.
Dan arti pulang bagiku adalah dimana saja, asal ada kamu.



Selasa, 06 Juni 2017

The Greatest Day



Ini bisa dibilang trip pertama kita. Ngga jauh-jauh, perjalanan Batam-Tg. Uban doang. Tapi bahagianya luar biasa. Capeknya juga ngga kalah luar biasa. Haha.

Perjalanan dimulai jam 07.00 WIB, Gilang yang waktu itu kerja shift malem, jadi ngga tidur semaleman karna bela-belain jalan (Sstt, doi ngga mandi juga :p).

Dari rumahku kepelabuhan itu paling cuma makan waktu kira-kira 15 menitan. Kita sengaja naik roro dari Batam, biar bisa bawa motor dan puas keliling keliling disana.

Sampe Tg. Uban, itu kira-kira udah jam 11.00, langsung tancap kedaerah Tg. Pinang karna Gilang mau numpang mandi dirumah sodaranya. Ternyataaa, Tg. Pinang-Tg. Uban itu lumayan jauuhhh, bisa ditempuh kira-kira 2 jam, kalau naik kendaraan pribadi kayak kita. Kalo naik transportasi umum, deuuh, bisa 4 jam. Dan terminal bis Tg. Pinang-Tg. Uban itu ada dikawasan Batu 10.

Oke, balik lagi keperjalanannya kita, setelah menempuh 2 jam perjalanan dengan cuaca yang luar biasa ngga bisa ditebak, kita keujanan didaerah gunung bintan dan kepanasan ketika udah memasuki kawasan Tg. Pinang. Dan karna itu udah siang, kita memutuskan untuk singgah untuk ngamanin kampung tengah, ke RM. Mie Tarempa yang ada didaerah Tg. pinang, tapi itu ntah di batu berapa, aku lupa :p

Setelah ngadem, setelah kita kenyang, dan setelah gilang selesai ganti kapas vapenya dia, kita lanjutin perjalanan. Kali ini tujuannya kedaerah pelabuhan di Tg. pinang. Dan perjalanan kita diiringi dengan turunnya serintik demi serintik air dari langit (read: gerimis) -_-

Akhirnya, sampe lah kita (walaupun hujan-hujanan) disebuah tempat, lebih mirip kayak taman sih kalau menurut aku, namanya Taman Laman Bunda. Sumpaaaah, itu tempat keren banget. Lokasinya dipinggir laut gitu, jadi viewnya kelaut lepas super luas. Banyak kursi-kursi buat pengunjung bisa istirahat, banyak juga icon-icon yang bisa dijadiin background buat foto. Salah satunya ya tulisan Kota Tanjung Pinang kayak foto kita diatas.

Waktu kita kesana sih, suasananya ngga begitu rame, ya secara lagi gerimis, siapa juga orang yang mau jalan-jalan ditaman lagi gerimis gitu, kalo ngga niat banget. Haha.

Sumber: Google Search
After take a (ugly) selfie in there, kita lanjutin perjalanan ke daerah Batu 10, kerumah saudaranya Gilang yang memang tinggal disana. Ketemu sama Mbah, Bude, dan Mama disana, kita buru-buru balik lagi pelabuhan Tg. Uban soalnya jam udah jam 16.00 lewat dikit dan kita harus ngeburu roro terakhir menuju Batam. Karna kalo kita ketinggalan kita mesti nginep lagi semalam disini, dan itu ngga mungkin!

Kalo orang liat ini sih perjalanan biasa, mungkin. Tapi ntah kenapa rasanya luar biasa bahagianya buat aku. Walaupun kita ngga nyampe ke tujuan utama kita, yaitu ke Patung 1000 di Tg. Pinang. Tapi aku seneng udah ngabisin waktu seharian bareng Gilang dan ketemu saudara-saudaranya yang baik banget sama aku disana.

Hay, Bapak Gilang Putra Pratama! Terima kasih buat waktunya. Ilysm :*

Daaan, kenapa aku bilang ini adalah The greatest day buat kitaaa??? Ssstt, only we know :p