true story

Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Desember 2017

Camping di Poyotomo


Dikesempatan liburan kali ini, aku sama Gilang memutuskan buat nyobain cara liburan yang beda, yang agak sedikit jauh dari kota. Dan kebetulan aku juga dapet recommend tempat yang keren banget dari temenku didaerah Bintan. Ini tempat lumayan jauh dari pusat kota. Untuk mencapai tepat ini kami musti nyebrangin lautan. Dan biar ngga susah nanti ketika disana, kami sengaja bawa motor dari Batam.

Setibanya dipelabuhan ASDP Tanjung Uban, kami langsung tancap gas menuju tempat ini. Dan itu memakan waktu sekitar 45 menit perjalanan. Disepanjang perjalanan yang ada pepohonan, ilalang, tanah kosong. Perumahan warga itu bisa diitung, Cuma ada beberapa biji doang dan jaraknya juga jauh-jauh banget. Waktu itu jam menunjunkan pukul 13.05 dan panasnya nyentang banget dikepala. Sepanjang jalan ngeliatin GPS, kok rasanya jauh banget ngga nyampe-nyampe.

Udah lemes seada-adanya karena panas, capek, dan laper, tiba-tiba kami ngeliat gerbang dengan tulisan “SELAMAT DATANG DI TAMAN PEMANCINGAN POYOTOMO”. Wuihhhh, kita cerah seketika.

Suasana yang ramai tapi tetap teduh menyambut kami. Setelah antri untuk membayar masuk Rp 10.000 per orang, kami langsung masuk kedalam area Poyotomo menuju kantin, menemui mbak Desi untuk penyewaan tenda karna kami mau camping disini. Biaya sewa tendanya juga murah banget, cuma Rp 50.000,- untuk satu malam. Dan tendanya bebas mau didirikan dimana aja didalam area Poyotomo. Lokasi yang kami pilih diarea belakang, ada kayak danau kecil disana. Dan ketika dilihat dari sisi depan, tenda kami pas banget ada di kaki gunung bintan. Sumpaaah, keren.




Setelah tenda berdiri, kami lanjut makan siang. Udah telat banget buat disebut makan siang sih sebenernya, pokoknya intinya makanlah. Soalnya dari pagi perut kami Cuma diisi pop mie, beli kapal.
Karna udah capek, kita memutuskan buat makan dikantin yang ada dipoyotomo. Pilihan menunya emang ngga begitu banyak, tapi enak-enak. Dan harganya juga standart, ngga mahal-mahal amat kayak tempat makan yang ada ditempat wisata pada umumnya.
Selesai makan, kita keliling-keliling desa Sri Bintan nyari buah favorit kita, Duriaaaaannnn. Karna memang kebetulan saat ini lagi musim durian.

Disepanjang jalan, bau durian udah kecium dimana-mana. Banyak penduduk lokal yang menjajakan durian didepan rumah mereka dipinggir jalan. Siang itu aja kami singgah kebeberapa penjual durian. Mumpung disana, kapan lagi makan durian yang asli baru jatoh dari pohon?




Malam harinya kami kepengen nyari makanan diluar. Setelah beberes, mandi, dan ganti baju, kami keluar. Pengen nyobain makanan lokal masyarakat sini. Tapi semua gagal total. Kami keluar daerah poyotomo sekitar jam 19.00 dan suasana udah sepi. Kami nyoba nanya ke beberapa penduduk yang ketemu dijalan ternyata buat beli makanan doang kami harus jalan sampe kesimpang lagoi yang lumayan jauh dari sana. Ditambah lagi sepanjang jalan juga ngga ada lampu jalan. Gelap seada-adanya. Opsi kedua, ke arah kantor pemerintahan didaerah Dompak. Disana baru warung makan. Dan ya sama aja, jalanan menuju kesana juga gelap minta ampun.
Kami memutuskan buat mengambil opsi kedua, dengan pertimbangan jarak tempuhnya lebih deket kesana ketimbang kesimpang lagoi. Gelap-gelap kami tempuh juga demi makan. Jalanan sepi, Cuma ada dua motor, motor aku sama Gilang, dan satu lagi motor temen kami. Hanya sesekali ada kendaraan dari arah berlawanan. Kanan kiri jalan adanya hutan, rawa-rawa, semak belukar. Beneran serem banget.
Tapi kami beruntung, belum nyame ketempat tujuan, kami udah ketemu tempat makan. Langsung aja belok tanpa mikir itu makanan enak apa ngga, pokoknya makan ajalah. eh tapi ternyata pecel lelenya enak loh. Ngga sia-sia jalan lumayan jauh, gelap-gelapan.
Sayang, begitu selesai makan digazebo pinggiran kolam hujan turun lumayan deres. Buru-buru deh balik ketenda sebelum kuyup.
Pagi hari di Poyotomo adalah pagi hari terindah sepanjang hidup. Asli damaaaaaai banget. Keluar tenda, ngeliat kearah Gunung Bintan yang masih terselimuti kabut. Subhanallah.
Suasananya juga beda 180 derajat kayak pertama kali kami menginjakan kaki disini. Tidak ramai seperti kemarin, hanya ada beberapa orang berjalan dipinggir kolam, anak-anak kecil bermain air, dan beberapa ekor bangau terbang rendah diatas kolam pemancingan.


Tapi sayangnya ngga bisa lama menikmati suasana itu karna harus beberes barang, dan pergi dari situ karna ngejar kapal buat balik kebata. Lain kali harus kesini lagi, menghabiskan pagi memandangi kabut yang menutupi gunung bintan perlahan menghilang.



See you again Poyotomo.

Senin, 20 November 2017

The Journey; Pergi, bahagia, pulang.




Beberapa waktu lalu bareng Gilang iseng mampir ke toko buku, karna udah lama banget nggaada bacaan baru dirumah. Setelah keliling-keliling dan membaca berbagai sinopsis yang ada dibagian belakang beragam buku yang ada disana. Akhirnya, pilihan aku dan Gilang jatuh pada buku bersampul cokelat dengan judul The Journeys 3. Ini bukan buku baru. Buku ini pertama kali cetak tahun 2013, dan ini juga udah seri ketiga-nya.

Awalnya aku pikir ini adalah novel yang isinya ngga jauh dari probematika anak remaja tanggung yang mengisahkan perjalanan hidup objek yang jadi pemeran utamanya dalam urusan cinta dan pencarian jati diri. Tapi ternyata, aku SALAH BESAR. Buku garapan beberapa blog-traveller ini berisi jauh lebih penting dan jauh lebih bermakna ketimbang itu. Judulnya The Journey benar-benar diartikan dalam artian yang sesungguhnya. Iya, perjalanan.

Buku ini berisi tentang kumpulan cerita dari para bloger-bloger pro melakukan perjalanan. Mulai dari perjalanan sekedar pulang kekampung halaman, perjalanan karna tuntutan kerjaan, perjalanan liburan bahkan perjalanan tak berujung. Ada cerita perjalanan dari blog-traveler Husni Mubarak ke zambia. Tentang bagaimana ia melakukan perjalanan menantang nyali, mencoba hal baru yang diluar batas beraninya. Ada juga cerita dari Dina, yang nekat melepas apartmenetnya untuk lebih menikmati bebas yang dekat dengan alam bersama sang suami, Ryan. Kalau penasaran bagaimana ia bertahan hidup nomaden dinegara orang tanpa rumah, dan berbagai tips keliling dunia dengan budged munumalis, boleh cek blog-nya di www.duaransel.com

Dari sekian banyak cerita yang disuguhkan The Journeys 3, menurutku yang paling menyentuh hati adalah cerita dari Hanny kusumawati yang melakukan perjalanan ke Santorini. Tulisannya bener-bener membuat pembaca penasaran dan jadi pengen banget traveling kesana juga. Menikmati Golden Sunset, Mengunjungi Oia, bermain di Red Beach, berjalan melewati anak tangga yang ada disepanjang tebing dan berinteraksi dengan penduduk asli setempat yang terkenal ramah.

Setelah selesai membaca buku ini, rasanya pengen banget jadi kayak mereka. Melakukan perjalanan ketempat asing, merasakan hidup dinegara orang yang tradisi, budaya dan kulinernya berbeda. Tak hanya itu saja, mereka bahkan bisa menemukan arti lain dari kehidupan dalam perjalanan mereka. Mendapatkan kedamaian dalam atmosfer yang berbeda. Mendapatkan makna kebahagiaan dari persfektif yang berbeda, bahkan bahagia bisa didapat dengan cara yang amat sederhana.

Tapi setelah diflashback kebeberapa waktu belakangan ini, kehidupanku hanya habis disini-sini saja. Menjalani rutinitas yang sama dan itu-itu saja. Perjalanan yang kulakukan cuma perjalanan dari rumah kekantor-kantor kerumah. Sempat beberapa kali merencanakan perjalanan bareng temen keluar kota, tapi berakhir sebagai wacana hanya karna alasan klasik, seperti: ngga ada waktu yang pas, kerjaan yang menumpuk, dan faktor ekonomi yang kurang mendukung.

Membaca bagaimana mereka, para penulis, ini bisa mencapai satu tempat dan menikmati kedamaian serta mendapatkan kebahagiaan disana, aku langsung merasa kalo hidup aku ini hambar banget. Kurang piknik!

Perjalanan paling jauh yang pernah kutempuh baru sampai Jogjakarta, sekitar tahun 2015 lalu bareng temen kantorku. Dan memang harus diakui, pertama kali menginjakan kaki dikota orang itu, suasananya beda. Kebahagiaan yang dirasakan selama 3 hari disana pun terasa begitu sederhana. Bisa naik sampe keatas borobudur dan menikmati pemandangan Magelang dari atas itu sudah bahagia. Padahal kaki lecet sampe berdarah-darah. Jalan kaki keliling Malioboro bukannya capek, malah kesenengan. Nyobain naik delman, bahagianya luar biasa. Karna seumur-umur belum pernah naik delman yang ditarik kuda beneran gitu. Bangun subuh-subuh, menghirup udara yang masih berkabut didaerah Kaliurang, bahagianya pol. Padahal biasanya baru bangun tidur kalo matahari udah tinggi diatas kepala. Keliling alun-alun kidul sampe jam 2 pagi, juga dijabanin. Ngantuknya ngga berasa sangkin bahagianya. Diajak offroad naik jeep sampe ke gunung merapi pagi-pagi, bahagianya tak terkira walaupun belum mandi dan masih pake baju tidur. Segala bahagia yang terasa sesederhana itu.

Antrinya sampe 2 jam buat foto disini doang
Setelah perjalanan ke Jogja itu, pernah sih menyempatkan diri pergi kebeberapa tempat buat sekedar merefresh pikiran yang udah muak sama kerjaan. Seperti one day trip ke Singapur dan Treasure Bay Bintan. Tapi tau sendiri kan kalo one day trip, dalam sehari diburu buat mengunjungi semua tempat yang ada. Akhirnya bukan dapet kesan bahagianya, pulang-pulang malah kecapekan dan kehabisan duit karna kalap beli ini itu yang ngga penting disana.

Sebenarnya dalam perjalanan, yang penting itu bukan seberapa banyak tempat yang dikunjungi, berapa banyak fot yang diabadikan, bukan berapa koper oleh-oleh yang dibawa pulang, tapi seberapa besar makna yang didapat dari perjalanan itu sendiri. Perjalanan itu seni. Dan seni itu harus dinikmati untuk mendapatkan apa yang ada dibaliknya, makna apa yang terkandung didalamnya.
Tak peduli jauh atau dekat.
Tak peduli cepat atau lambat.

Seperti kutipan kata yang kuingat, “ada saatnya seseorang berangkat dan ada saatnya seseorang harus pulang. Dan di antara keduanya adalah perjalanan” – Keumala (2012).
Dari setiap perjalanan, pasti akan berakhir sama; pulang.
Pulang kemanapun, atau siapapun yang bisa menjadi tempat merebah  dan melepas lelah. Tempat beristirahat sambil mempersiapkan akan kemana perjalanan selanjutnya.
Dan arti pulang bagiku adalah dimana saja, asal ada kamu.



Jumat, 10 November 2017

Tulisan #duaratusdelapanbelashari



Hai Tuan yang entah mengapa selalu kurindu, aku hanya ingin menyapamu, mengingatkanmu tentang dua ratus delapan belas hari kebersamaan kita. Sejak saat kamu tanyakan aku untuk menjadi teman hidupku, segala yang ada dihidupku, berubah arah kepadamu. Bahagiaku, hanya jika ada dirimu. Cita-citaku, hanya agar bisa hidup bersamamu. Senyumku, hanya jika aku menatap mata teduhmu. Tawaku, hanya jika mendengar suara beratmu.

Aku ingin kamu tahu, kamu adalah orang yang sangat aku hargai keberadaannya, yang aku tunggu pesan singkatnya dan yang aku rindukan kehadirannya. Kamu, penyemangatku melewati hari-hari, bahkan yang terberat sekalipun. Sumber satu-satunya segala tulisanku bisa tercipta. Sebegitunya? Iya. Begitulah.

Kamu teman malamku. Ketika mata kecilku ini menolak untuk dipejamkan, segera segala angan tentangmu memenuhi otakku. Hari-hari yang kita jalani, segalanya yang kita lewati, seperti film yang terputar ulang dikelopak mataku. Kata-kata dan segala janji yang pernah kamu ucapkan, seperti dongeng yang mendayu. Momen tak hanya sekedar lewat, tapi meninggalkan jejak. Wajah yang meninggalkan nama, interaksi yang meninggalkan koneksi, juga setiap kesan yang meningalkan kenangan. Dan kita? Kita tersimpan dalam banyak ingatan. Demi Tuhan, Tuan, berjanjilah itu bukan hayalku saja.

Kamu mentari pagi pembakar semangatku. Saat hari terasa begitu berat bagiku untuk dilewati, bayangan hidup bahagia bersamamu yang menyadarkanku. Seperti mendapat tenaga ekstra, bayangan tawamu bisa membuatku mengalahkan rasa muakku pada rutinitas kerja yang membosankan. Satu kata janji untuk segera bertemu, bisa membakar beribu-ribu semangatku untuk segera menyelesaikan segala urusan pada hari itu. Jangan akhiri ini Tuan, tak bisa kubayangkan apa jadinya jika tak ada lagi kata janji itu.

Kamu satu-satunya permintaan pada pukul 11:11-ku. Iya, hanya kamu yang kuminta. Percayalah, tak perlu kamu bertanya padaku seberapa besar rasa yang ada untumu. Tanyakan pada Tuhan. Kurasa dia sudah bosan mendengar selipan namamu dalam doaku. Kebaikan bagimu, kemudahan untukmu, kelancaran segala urusanmu, sudah menjadi kata-kata wajib tiap kali aku menghadap-Nya. Aku tak banyak meminta. Hanya agar aku menjadi seorang yang pantas mendampingimu menghabisi sisa usia.

Sejak dua april lalu, ruang didalam hatiku terbuka. Ruang dimana AKU dan KAMU menjelma menjadi kita. Ruang dimana yang ada hanya kita berdua. Ruang dimana tak ada orang lain yang bisa menatapmu lebih dalam kecuali aku. Ruang dimana aku bisa merasakan masa depan kita terasa begitu dekat, begitu nyata.

Tuan, bukan tak pernah hatiku tergores karnamu. Bukan tak sering air mata ini menetes karna ulahmu. Sering perkelahian terjadi menyelingi cerita kita, tapi tak sedikitpun itu mengurangi rasaku untuk tetap bersamamu. Sering aku merasa tak pantas berada didekatmu, tapi dengan berbagai cara kamu selalu bisa kembali meyakinkanku, bahwa kamu pantas untuk ku pertahankan.

Aku harap segala rasa bahagia yang aku rasakan ini mejadi bahagiamu juga.

Terima kasih Tuan, untuk dua ratus delapan belas harinya, untuk beratus-ratus kebaikannya, untuk beribu-ribu rasa cintanya.

Terima kasih, untuk segala sabar menghadapiku, segala maklum memaafkanku, segala amarah demi kebaikanku.

Sebaik-baiknya aku, adalah lebih baik kamu yang sudah membuatku menjadi lebih baik.

Ini bahagiaku, jika kamu ingin tahu. Bahagia ketika menemukan seseorang yang karna sebabnya aku menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Terima kasih.

Senin, 07 Agustus 2017

Unexpected Birthday Surprise!




Like a dream comes true, mungkin itu yang aku rasain waktu itu.

Di Sky Light Lounge yang bertempat di lantai 8 Vanilla Hotel, Gilang ngasih Surprise birthday yang super super romantis, Perfect Candle Light Diner.

26 juni 2017, 00.00 WIB
Tengah malem buta Gilang nelfon cuma buat ngucapin Happy Birthday ke aku. Orang pertama yang ngucapin itu ke aku.
Paginya, semuanya berjalan biasa aja. Aku sama sekali ngga ada kepikiran Gilang bakal ngasih kejutan atau apalah.

Dan sorenya, Gilang nongol kerumah, katanya sih mau ngajakin nonton. Tapi dia bilang, mamanya dari Singapore dateng dan sekarang stay di Vanilla Hotel. Jadi sebelum nonton, kita singgah dulu kesana ambil titipan dari mama buat ibu. Tanpa firasat apapun aku iyain aja, karna kirain emang beneran.

Sampe disana, eh ternyata, bukan mama yang dateng. Ngga ada itu titipan atau apalah. Yang ada satu meja Full of romantic Things dan ada cake dengan tulisan “HAPPY BIRTHDAY SAYANG”. Huahhhh, semuanya campur aduk jadi satu, seneng, terharu, kaget. Ngga nyangka aja Gilang bisa seromantis itu nyiapin semuanya. Segala pake lilin, balon, foto-foto kita. Hmmm, speechless! Nggabisa diungkapin dengan kata-kata gimana bahagianya aku waktu itu.

Akhirnya, Cuma bisa bilang gini,      
                                                             
Hai, sayang
Terima kasih buat segala hal indah yang udah kamu lakuin buat aku.
Terima kasih buat semua hal baik yang selalu kamu tunjukin ke aku.
Terima kasih udah jadi seseorang yang luar biasa sabar ngadepin aku.

Mainstream banget sih emang kata-katanya. Tapi emang ini yang aku rasain. Sanking bahagianya tuh sampe nggatau harus ngomong apa. Pokonya tuh ya semenjak ada Gilang, hidup aku berubah. Semua makin indah, makin sempurna. Dan masa depan itu udah kayak didepan mata. Cieeeee, amiin.

Setelah puas diner-dineran, kita pulang. Lanjut potong kue dirumah. Bareng mama, papa, sama keluarga yang lain. What a perfect day and very perfect birhtday!

Kamis, 13 Juli 2017

22 Juni 2017 - Happy Birthday, gilang!


Happy Birthday, Happy Birthday
Happy Birthday, Gilang!

Seperti kebanyakan cewek-cewek lain, ketika cowoknya ulang tahun pasti banyak banget yang direncanain. Pengen kesini kesitu, ngasih surprise ini itu, kesana sini nyariin kado, pengen banget buat unforgetable moment.

Gitu juga aku. Dari jauh-jauh hari udah rencana banget pengen ngasih surprise ke Gilang. Pengen ngasih kejutan yang ngga akan dia sangka sebelumnya. Ngumpulin duit, searching kado apa yang cocok buat dia, nanya ketemen-temen ntr bagusnya gimana. Sampe nyusun rencana pura-pura minta ditemenin check up mata dirumah sakit biar dia izin kerja, tapi ntr bohong dikit bilang mau ketemu temen dulu di salah satu tempat karoke favoritnya aku sama temenku, daaaaan surpriseeeee!!!

Tapi ternyataaaa, beberapa hari lagi sebelum hari H, semua ZONK! Berantakan, buyar ditengah jalan dengan 1 pesan singkat dari gilang,

hari kamis aku ngga jadi nemenin kamu yaa

Lemes seketika.

Tapi  ya sudahlah. Memang timenya lagi ngga pas. Dia ulang tahunnya cuma beberapa hari lagi menjelang lebaran. Dan pas lagi dapet shift kerja masuk siang dari jam 2 siang sampe jam 10 malem. Terus aku bisa apa???? Haha.

PASRAH.

Menjelang detik detik terakhir, kok rasanya sayang banget yah hari ini kelewat gitu aja tanpa apapun. Akhirnya dengan modal nekat dan cake yang emang udah telanjur dipesen dari jauh hari ketemenku, aku mau datengin kekantornya!

Pagi, udah nyusun rencana sama adek, ntr dia jemput aku kekantor, balik kerumah bentar, trus langsung cabut alesan mau buka diluar sama temen. Karena kebetulan gilang break pas jam 18.00 WIB. Tapi ternyata mobil dipake. Ujian banget ya ampuunnnn. Akhirnya setelang nunggu dengan gelisah takut gilang keburu pulang dan rencana bakal gagal total, mobil pun balik. Alhamdulilah :p

Dari rumah aku nyantai aja nyetir kearah kantornya Gilang yang emang ngga begitu jauh. Belum kepikiran disana nanti bakal gimana. Begitu sampe dikantornya dia, gila rame banget! Mendadak jiper. Dan sempet mau mutusin puter balik aja ah ngga jadi, maluuuuu. Temen-temennya pada ngumpul diluar dan dia ngga ada disana. Sebelumnya emang udah ketemu sih sama temen-temennya itu waktu nemenin gilang futsal sama orang kantor, tapi kan ngga kenal-kenal banget. Cuma sekedar tau gitu doang.

Mulai deg-degan, bingung mau ngapain dan harus gimana. Akhirnya adek aku berinisiatif buat nyamperin temen-temennya, trus minta tolong panggilin Gilang kedalem. Untungnya temen-temenya pada baik-baik banget, mau manggilin dan bantuin aku kasih surprise gilang.
Setelah dipanggil, Gilang keluar dari kantornya, ikuta gabung duduk sama temen-temennya. Trus salah satu temennya kodein aku buat keluar mobil, dan jalan kebelakangnya dia. Sumpah deg-degan parah kek orang bego!

Baru nyampe dibelakangnya, tiba-tiba Gilang noleh kebelakang.

 TARAAAAAA!!!!!!!

HAPPY BIRTHDAAAAAYYYYY!!!

Kurang puas sih sebenernya Cuma buat gitu doang. Tapi mau gimana lagi, timenya emang lagi ngga pas untuk buat kayak yang aku mau. Next year maybe.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Selamat bertambah usia, Sayang. Makin dewasa, jangan suka marah-marah sambil matahin kipas angin lagi.

Jadi pasangan yang terbaik buat aku dan jadi Abi yang terhebat buat Adam. We love you!
Dan semoga tahun tahun kedepan masih kita rayain bareng-bareng. Xoxo!

Rabu, 21 Juni 2017

Jatuh Cinta diam-diam, Tentang Rindu yang Dipendam






Ngga bisa tidur semaleman, iseng buka wattpad, baca baca cerpen disitu dan nemu satu cerita yang ngena banget dihati. Ceritanya tentang seseorang yang sebenernya sayang,tapi lebih memilih buat mendem perasaannya dan sampe endingnya tetep aja dia ngga bisa memiliki. Nyeesss banget ngga sih???

Begitu selesai baca, langsung ngedetak aja gitu dihati. Kebayang gimana rasanya sayang sama orang tapi ngga bisa bilang. Jadi kebawa perasaan dan ingat seseorang. Bukan, bukan pacar. Alhamdulillah hubunganku sama Gilang baik-baik aja. Tapi ini lebih dari itu.

Hubunganku sama orang ini lebih dari pacar. Susah dijelasin. Tiba-tiba mendadak jadi sayang sesayang sayangnya sama orang ini cuma gara gara ngeliatin mukanya yang polos pas tidur dan itu rasanya adeeem banget. Nggatau gimana ungkapinnya, but yes, i am falling in love. This is a real love. Unconditional love.

He is Gilang’s son. Yaa, Gilang is already have a kid, his name is Adam Gian Pratama, 4 years old. I never dreamt my blessings would all be multiplied. That life would just seem more complete, when he were by our side. Bahagaianya itu beda. Entahlah, mungkin karna belum pernah ngerasain punya anak jadi over excited.

Pertama kali tau Gilang udah punya anak, ragu itu ada. Ya secara sebelumnya aku belum pernah begini. Ngga kebayang ntar harus apa dan mesti gimana. Tapi makin dijalanin, makin kesini, everything’s good. Jujur aja ya, i never knew how much i love my boyfriend until i saw how much he love his son. Kita jalan bareng, main-main bareng, ada rasa bahagia yang entah kenapa rasanya belum pernah aku rasain sebelumnya.

Kalau mau dijelasin rasanya itu kayak jatuh cinta, tapi ngga bisa bilang. Udah sayang, tapi ngga bisa memiliki. Seberapapun sayangnya aku kedia, he will never be mine. Hurt? Absolutly, yes! Sering ada rasa cemburu yang ngga bisa dijelasin kenapa, karna aku ngga ada hak untuk itu. Tiap kali denger Adam nyebut nama orang lain dalam obrolan kita, itu rasanya kayak ada bunyi “kraaaak....” didalem hati, berasa ada yang patah.

Aku mulai ngerasain ini waktu tiba-tiba Gilang ngabarin Adam sakit dan diopname. Balik kerja dijemput Gilang, buru-buru kita kesana. Sampe sana perasaan aku tuh campur aduk. Antara khawatir, sedih ngeliat dia lemes begitu, pengen langsung meluk tapi ngga bisa. Akhirnya aku cuma bisa diem. Iya, diem doang dan ngeliatin. Ngeliat dia nangis, rasanya tuh pengen ada disamping dia dan bilang, “don’t cry baby, everything’s will be fine. I am here with you now”. Tapi mikir lagi, posisiku saat ini belum bisa buat ngelakuin hal sejauh itu. Dan aku juga sadar satu hal, bukan aku yang dia butuhin saat itu. He need his Mom. Not me.

Malem kedua Adam sakit, aku sedikit beruntung. Karna bisa duduk disamping dia, ngipasin dia karna dia kepanasan, dan ngeliatin dia tidur. Nggatau kenapa, tapi itu rasanya damai banget. You know what i’m thinking about? He may not have my eyes, but from that very first moment, he had my heart. I may not carried him for 9 month, but from now, i will always bring him in my heart forever. Ngga pengen pulang. Pengen disitu, nemenin dia sampe ntr dia bangun. Tapi sekali lagi, itu ngga mungkin.

Tiap kita jalan, nyuapin dia makan itu precious moment banget buat aku. Ngeliat dia becanda terus ketawa itu rasanyaaaa, aaahh susah digambarin senengnya. Apalagi kalo nemenin dia main game, ngeliat mukanya dari deket, geregetan pengen ciuummmm.

Luar biasa banget yah, anak kecil umur 4 tahun bisa bikin aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.

Sebenernya sih ngga mungkin banget, tapi seandainya suatu saat nanti Adam ketemu tulisan ini, aku pengen dia tau, so many people love you, Kid.


Not flesh of my flesh

Not bone of my bone

But still miraclously, my very own

I never forget for one single minute, the day when i saw you sleep

You didn’t grow under my heart, but in it


When i first met your father

Little did i know, that over time

I’d loved you, too










Selasa, 06 Juni 2017

The Greatest Day



Ini bisa dibilang trip pertama kita. Ngga jauh-jauh, perjalanan Batam-Tg. Uban doang. Tapi bahagianya luar biasa. Capeknya juga ngga kalah luar biasa. Haha.

Perjalanan dimulai jam 07.00 WIB, Gilang yang waktu itu kerja shift malem, jadi ngga tidur semaleman karna bela-belain jalan (Sstt, doi ngga mandi juga :p).

Dari rumahku kepelabuhan itu paling cuma makan waktu kira-kira 15 menitan. Kita sengaja naik roro dari Batam, biar bisa bawa motor dan puas keliling keliling disana.

Sampe Tg. Uban, itu kira-kira udah jam 11.00, langsung tancap kedaerah Tg. Pinang karna Gilang mau numpang mandi dirumah sodaranya. Ternyataaa, Tg. Pinang-Tg. Uban itu lumayan jauuhhh, bisa ditempuh kira-kira 2 jam, kalau naik kendaraan pribadi kayak kita. Kalo naik transportasi umum, deuuh, bisa 4 jam. Dan terminal bis Tg. Pinang-Tg. Uban itu ada dikawasan Batu 10.

Oke, balik lagi keperjalanannya kita, setelah menempuh 2 jam perjalanan dengan cuaca yang luar biasa ngga bisa ditebak, kita keujanan didaerah gunung bintan dan kepanasan ketika udah memasuki kawasan Tg. Pinang. Dan karna itu udah siang, kita memutuskan untuk singgah untuk ngamanin kampung tengah, ke RM. Mie Tarempa yang ada didaerah Tg. pinang, tapi itu ntah di batu berapa, aku lupa :p

Setelah ngadem, setelah kita kenyang, dan setelah gilang selesai ganti kapas vapenya dia, kita lanjutin perjalanan. Kali ini tujuannya kedaerah pelabuhan di Tg. pinang. Dan perjalanan kita diiringi dengan turunnya serintik demi serintik air dari langit (read: gerimis) -_-

Akhirnya, sampe lah kita (walaupun hujan-hujanan) disebuah tempat, lebih mirip kayak taman sih kalau menurut aku, namanya Taman Laman Bunda. Sumpaaaah, itu tempat keren banget. Lokasinya dipinggir laut gitu, jadi viewnya kelaut lepas super luas. Banyak kursi-kursi buat pengunjung bisa istirahat, banyak juga icon-icon yang bisa dijadiin background buat foto. Salah satunya ya tulisan Kota Tanjung Pinang kayak foto kita diatas.

Waktu kita kesana sih, suasananya ngga begitu rame, ya secara lagi gerimis, siapa juga orang yang mau jalan-jalan ditaman lagi gerimis gitu, kalo ngga niat banget. Haha.

Sumber: Google Search
After take a (ugly) selfie in there, kita lanjutin perjalanan ke daerah Batu 10, kerumah saudaranya Gilang yang memang tinggal disana. Ketemu sama Mbah, Bude, dan Mama disana, kita buru-buru balik lagi pelabuhan Tg. Uban soalnya jam udah jam 16.00 lewat dikit dan kita harus ngeburu roro terakhir menuju Batam. Karna kalo kita ketinggalan kita mesti nginep lagi semalam disini, dan itu ngga mungkin!

Kalo orang liat ini sih perjalanan biasa, mungkin. Tapi ntah kenapa rasanya luar biasa bahagianya buat aku. Walaupun kita ngga nyampe ke tujuan utama kita, yaitu ke Patung 1000 di Tg. Pinang. Tapi aku seneng udah ngabisin waktu seharian bareng Gilang dan ketemu saudara-saudaranya yang baik banget sama aku disana.

Hay, Bapak Gilang Putra Pratama! Terima kasih buat waktunya. Ilysm :*

Daaan, kenapa aku bilang ini adalah The greatest day buat kitaaa??? Ssstt, only we know :p



Minggu, 04 Juni 2017

How we know each other


8 April 2015

"@gilanggg17 started following you". 

Yes, This is He. Kita pertama kali ketemu secara random ditwitter lalu berlanjut di Direct Messages. Kenalan, tuker-tukeran akun Path sampe pin BB. Sumpaaah, kenalan paling basi. Tapi siapa sangka dari keisengan dia ngefollow dan ngajak kenalan murahan di DM Twitter, hubungan kita bisa sejauh sekarang.

Kalo ada yang bilang dunia ini ngga sesempit daun kelor, aku ngga setuju. Dunia ini sempit bangeeeettttt. Ternyata, orang asing yang ngajak kenalan di DM twitter itu adalah temennya temenku. Dari situlah jadi ngerasa 'semakin deket' satu sama lain. walaupun pada saat itu status aku pacar orang dan dia juga udah ada yang punya.

Hubungan kita stuck disitu. Ngga ada lagi DM-an via Twitter atau sosial media lain. Cuma sekedar like foto-foto di instagram atau nge-love moment di path.

Dua Tahun kemudian......

Awal 2017 kita berdua sama-sama bubaran dari hubungan yang sebelumnya. Aku denger cerita putusnya dia, dari temenku yang kenal sama dia. Gitu juga dia tau tentang bubaraannya aku dari temennya yang temenan juga sama aku.

Dan, semuanya dimulai lagi dari situ.

7 Maret 2017
Dia ngehubungin lagi via LINE. Katanya dapet nomerku dari temannya yang kenal sama aku itu. And, from one Hello, everything is begin.

28 Maret 2017
Ngedate pertama kali! HAHA. Rasanya lucu. Udah pada tua juga masih ketemuan trus nonton kayak anak SMP pdkt :p
Film yang ditonton juga Beauty And The Beast-nya Emma Wattson. Sumpaahhhh, canggung gilaaakk. Bingung mau ngapain. Itu studio berasa dua kali lipat lebih dingin dari biasanyaaaa.

2 April 2017

"kamu mau ngga jadi teman hidup aku?"

The Biggest question that make my tear fallin down at the moment.
Ngga bisa jawab apa-apa waktu itu, cuma bisa nangis. Nggatau kenapa air matanya ngalir gitu aja. Seneng? Pasti. Cewek mana sih yang ngga seneng denger pertanyaan tulus begitu? Bingung? Iya. Karna saat itu masih ada yang belum selesai antara aku dan hubunganku sebelumnya. Ngerasa bersalah? Sedikit. Ada rasa bersalah dihati kenapa bisa ngerasa nyaman sama orang lain secepat itu. Akhirnya, aku coba buat jujur kedia tentang status aku pada saat itu yang masih 'ngegantung' ngga jelas. Dan dia bilang dia mau nungguin sampe aku selesain semua masalahnya.

...

Sampe sekarang, masih suka wonder aja hubungan kita bisa berjalan sejauh ini. Kayak Dream Comes True. Dia orang paling sabar yang pernah aku temuin didunia. Lebay? engga, emang bener. Walaupun umur hubungan kita baru masuk hitungan ketiga. Tiga tahun? Bukan, tiga bulan. Masih cetek banget emang, tapi segalanya udah kita laluin bareng-bareng. We know each other so well. Dia udah kenal sama keluarga aku, dan aku juga udah dikenalin kekeluarganya.

Kadang aku ngerasa kalo kita berdua harus berterima kasih sama luka. Kita ketemu dengan luka masing-masing. Dia dengan rasa kecewanya, dan aku dengan rasa sakitku. Tapi dari situ kita belajar buat jadi lebih baik dihubungan yang lagi kita jalanin sekarang. Kita belajar buat ngga ngulangin lagi kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat dihubungan kita yang dulu. Kita belajar buat sama-sama menjaga biar kegagalan yang pernah kita rasain dulu ngga keulang lagi sekarang.

Aku dapet Quotes ini di facebook account-nya dia :p


Lucky me to have him in my life.